Bertengkar sudah pasti sering, menangis sudah pasti terjadi setiap kali merasa tersakiti, mencoba memperbaiki sudah pasti karena bertahan selama 9 tahun, mencoba bahagia dengan konsekuensi dapat cemoohan dari orang-orang yang tidak tau masalah kita yang menganggap aku brengsek karena bersenang-senang membunuh waktu ketika kamu sibuk sampai larut malam. Hai, ketika aku mau melanjutkan pernikahan ini ketika aku sudah memutuskan untuk membatalkannya, apa penghargaanmu? Aku masih tetap sendiri, tanpa teman cerita, bekerja sendiri, kemana-mana sendiri, menyelesaikan masalahku sendiri, hidup sendiri. Hai, kemana orangtuamu ketika kita melangsungkan acara penting bernama akad nikah? Mereka tidak hadir. Saat resepsi? Mereka tetap tidak ada. Aku tidak merasa punya orangtua kedua setelah orangtua kandungku. Bahkan sekarang orangtuaku ikut membelamu. Kamu sudah menjadi bagian keluargaku, tapi untuk bersosialisasi dengan mereka pun kamu malas. Lebih senang berdiam diri di kamar, menonton tv, t...