Bertengkar sudah pasti sering, menangis sudah pasti terjadi setiap kali merasa tersakiti, mencoba memperbaiki sudah pasti karena bertahan selama 9 tahun, mencoba bahagia dengan konsekuensi dapat cemoohan dari orang-orang yang tidak tau masalah kita yang menganggap aku brengsek karena bersenang-senang membunuh waktu ketika kamu sibuk sampai larut malam.
Hai, ketika aku mau melanjutkan pernikahan ini ketika aku sudah memutuskan untuk membatalkannya, apa penghargaanmu?
Aku masih tetap sendiri, tanpa teman cerita, bekerja sendiri, kemana-mana sendiri, menyelesaikan masalahku sendiri, hidup sendiri.
Hai, kemana orangtuamu ketika kita melangsungkan acara penting bernama akad nikah? Mereka tidak hadir. Saat resepsi? Mereka tetap tidak ada. Aku tidak merasa punya orangtua kedua setelah orangtua kandungku. Bahkan sekarang orangtuaku ikut membelamu.
Kamu sudah menjadi bagian keluargaku, tapi untuk bersosialisasi dengan mereka pun kamu malas. Lebih senang berdiam diri di kamar, menonton tv, tanpa rasa bersalah walaupun aku ada di kamar itu juga, kamu tetap sibuk dengan duniamu sendiri.
Ketika aku memimpikan kehidupan bahagia setelah menikah? Ternyata aku belum bisa mendapat itu. Entah apalagi yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa berdiam diri di dalam kamar kos, meratapi setiap egoku, impian yang tidak terwujud, dan rasa lelah yang luar biasa tak terobati sampai saat ini.
KITA ITU LUCU, IYA KAN?!!!
Aku wanita yang mau diusahakan, butuh effortmu, butuh inisiatifmu, butuh teman hidup, butuh bersandar untuk beristirahat, butuh "rumah" untuk pulang.
Sepertinya impianku yang pernah aku tulis di "Dear My Future Husband" sama sekali tidak aku dapat.
...............
Speechless bacanya
BalasHapus