Langsung ke konten utama

Sudah Sarjana, Lantas Mau Apa?

Sumber : Dokumentasi Pribadi
Kegembiraan tak dapat dibendung oleh para wisudawan wisudawati yang telah resmi dinyatakan sebagai sarjana pada saat wisuda, baik wisuda fakultas ataupun wisuda universitas. Tidak hanya para wisudawan yang berbahagia, tetapi ada orang tua mereka pula yang ikut berbahagia. Putra putri yang mereka banggakan telah menyandang gelar sarjana dari universitas tempatnya mencari ilmu, sekarang putra putrinya tersebut telah mempunyai tambahan gelar dibelakang nama mereka sesuai disiplin ilmu yang telah ditempuh.
Namun kegembiraan itu hanya bertahan beberapa waktu saja, sebelum mereka menyadari akan melakukan apa mereka nanti setelah menyandang gelar sarjana tersebut. Banyak dari kita tidak mempunyai perencanaan yang matang mengenai apa yang akan kita lakukan, apa target kita, bagaimana strategi yang harus disiapkan, semuanya terlupakan seiring kebahagiaan yang terluap dan perasaan menggebu-gebu akan status sarjana yang didapat, sehingga kita terlena dan kurang persiapan menghadapi persaingan kerja yang ada.
Kekhawatiran mengenai persaingan kerja tidak dialami oleh semua sarjana, ada beberapa yang sangat siap menghadapi persaingan dunia kerja diluar sana, ada yang menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi semenjak kuliah tahun pertama, ada yang menyibukkan diri dengan bekerja part time untuk mencari pengalaman kerja, ada yang sibuk mengikuti kepanitiaan kegiatan di luar kampus agar mendapat tambahan relasi, semua itu dilakukan oleh orang-orang yang sadar mengenai pentingnya mempersiapkan diri, karena sadar mereka hanya bisa mengandalkan diri sendiri dan harus berjuang sendiri, bukan orang-orang yang sengaja dipersiapkan oleh orang tuanya untuk mengurus bisnis keluarga atau menduduki dinasti politik yang sudah terlebih dahulu disiapkan keluarganya.
Ada juga beberapa jurusan di fakultas tertentu yang memang dilakukan perekrutan langsung dari beberapa perusahaan yang sedang mencari fresh graduate dari jurusan tersebut.
Uniknya, apapun jurusan dan disiplin ilmu yang diambil, target utama kita setelah lulus kuliah dan mendapat gelar sarjana adalah mengikuti tes CPNS. Banyak sekali rekan yang selalu bercita-cita demikian. CPNS dianggap langkah awal menuju gerbang kesuksesan. Hidup akan terjamin jika menjadi CPNS yang kemudian akan diangkat menjadi PNS. Kita tidak menyadari betapa banyaknya pintu rejeki untuk menjadi sukses selain menjadi PNS, mengabdikan diri pada negara pun tidak serta merta hanya dengan menjadi PNS. Jika kita bersungguh-sungguh dalam pekerjaan kita, menekuni setiap pekerjaan dengan baik, itu sudah lebih dari cukup untuk tidak membebani negara. Banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan yang termasuk mengabdi pada negara, misalkan saja menjadi wartawan, pegiat sosial budaya, atau bekerja di LSM. Kita juga bisa berwirausaha, mengembangkan produk lokal, ikut memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitar. Itu jauh lebih bermakna dan berguna, bukan?
Selama ini kita hanya sering berfokus pada ketakutan masa depan dan kecemasan hari esok, sampai kita lupa bahawa apa yang kita lakukan hari ini akan berpengaruh pada hari esok. Berhenti untuk menangisi hari lalu, berhenti untuk hanya berdiam diri hari ini, dan berhenti untuk mencemaskan hari esok. Lakukan semua hal positif yang bisa kalian lakukan, rekan sarjana. Negara ini butuh peran kalian, bukan kecemasan kalian. Negara ini butuh sumbangan ide, bukan keluhan tanpa solusi.
Tetap berjuang untuk negeri ini, untuk negeri yang lebih baik dan semua masyarakatnya makmur.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berawal dari Basa-basi

Percaya atau tidak kalau semua berawal dari basa-basi? Iya. Seperti pengalaman saya kali ini, menemukan teman-teman yang asik dan bersahabat dengan baik sampai hari ini. Basa-basi tersebut dimulai ketika salah seorang teman berencana mengadakan liburan ke Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara Jawa Tengah pada tahun 2012 lalu. Pasky, mempublikasikan tentang rencana liburannya ke Pulau Karimunjawa lewat BBM, untuk menawarkan rencana trip Karimunjawa selama 3 hari 2 malam. Tanpa fikir panjang, saya privat chat untuk mengikuti trip tersebut. Setelah itu saya dan beberapa teman-teman berkumpul untuk membahas trip Karimunjawa ini.  Dari basa-basi itulah personil yang terkumpul adalah: Pasky Della Dyas Ikhsani Farid N Hidayat   Arka Yanitama M Firmansyah Kania Widiatami Hesty Dyah Saya sendiri Naaaahhh dari basa-basi inilah kita menelma menjadi sahabat yang kita namakan Genk Okol sekumpulan orang-orang penuh intrik dan tipuan....

#2019HarusBahagia (2)

Udah baca part 1 kan? Lanjut ya ☺️ Intinya ya 3 tahun ke belakang itu lagi sedih-sedihnya. Kita sebagai pribadi yang percaya keberadaan Tuhan harus percaya dong ya sama apa yang bakal Tuhan kasih untuk kita. Ga ada kehilangan kalau ga ada gantinya, itu sih yang aku jadiin pegangan selama ini. Semua masalah di hidup ini, bahagia, susah, sedih, itu sifatnya hanya sementara seperti siang dan malam. Pasti datang silih berganti. Mau diapain tetep kayak gitu. Ga ada satupun orang yang ga luput dari masalah apalagi kehilangan. Ya kan?! Intinya janji sama diri sendiri, AKU BISA BAHAGIA. Bertemu lelaki sesuai impian, menikmati, dan menjalani sisa umur dengan bahagia 🙂 Sekarang aku ga mau mikir apa kata orang lagi, apalagi kalau nyakitin diri sendiri, ga bikin bahagia, malahan bisa bikin nambah frustasi. Sengsara juga kita sendiri yang rasain, bukan orang lain. Wkwk! Karena beneran deh, hidup di bawah tekanan sosial, berdasar omongan orang, ga bakal bikin kita bahagia. Terlalu memak...

Berbisik pada Malam

Wajar saja jika kita merasakan bahagia, sedih, atau perasaan biasa saja, itu karena kita adalah manusia, yang diciptakan dengan "paket lengkap" oleh Tuhan, termasuk perasaan didalam diri masing-masing. Justru aneh atau tidak wajar jika kita tidak memiliki salah satu rasa yang saya sebut tadi, rasa-rasanya tidak afdol untuk menjadi manusia seutuhnya. Tapi ingat, sesuatu yang berlebihan itu tak baik bukan? Jadi, berbahagialah sewajarnya, sedih sewajarnya, atau dengan kata lain bersikap biasa saja jangan terlalu heboh. Saya pernah merasakan, entah rasa apa, yang pasti kebingungan yang sungguh luar biasa, kegelisahan, kegaduhan hati yang terus mengusik tidur, dan terbangun dengan perasaan hampa yang berlebihan. Bukan karena cinta ala ABG, tetapi kegelisahan mengenai hidup yang stagnan dan tidak ada kegiatan menantang yang harus dijalani, seperti bentuk lain dari kebosanan dan kejenuhan yang berlarut-larut. Apa yang telah saya lakukan? Apa salah saya? Pertanyaan itulah yang s...