Langsung ke konten utama

Dear My Future Husband

Usia udah menginjak angka 24. Nunggu apalagi? Pertanyaan simpel yang sering muncul seiring makin tingginya mobilitas sosial saat ini. Dulu sih ngebet banget, bahkan sampe kepikiran pengen merit pas usia 21 tahun, ya kira-kira pas itu lagi kuliah semester 5 lah. Hihihi
Kedengerannya bego sih ya, ngapain cepet-cepet nikah. Nikah bikin ga bebas! Sayang masa mudanya! Belum lagi mikir anak kalau rewel. Ya kira-kira kayak gitu hujatan dari temen-temen. Tapi dulu, menurutku nikah muda itu indah banget. Jalan kemana-mana enak ama pasangan, mau nginep juga asik, kalau pusing mikir tugas kuliah bisa curhat ma suami, kalau capek ada yang mijitin, pas anak udah gede jadi seneng karena mamanya masih muda, dll yang asik-asik pokoknya. Ga kepikiran bakal susah pas punya baby, kan bakal lucu kalau lagi jalan ma temen-temen trus udah gendong debay, debaynya bakal disayang banget kan ama tante dan omnya. Hahaha... Ya begitulah pikiran singkat pas masih usia 21 tahun yang lalu.
Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari berlalu, usia juga semakin bertambah. Makin banyak kegiatan sosial yang dilakuin, makin  banyak ketemu orang engan beragam jenis, budaya, dan pemikirannya, bikin pikiran tentang nikah muda hilang. Sekarang yang ada dipikiran kalau nikah muda itu ga bakal bebas, bakal riweuh kalau mau berkegiatan, bakal banyak diomelin mertua kalau masih suka nongkrong ma temen-temen (dalam konteks belum punya debay ya), belum lagi urusan di rumah yang bisa bikin olahraga tiap hari. Iya, sekarang aku mulai berpikir kayak ucapan temen-temen 3 tahun yang lalu.
Satu persatu sahabat mulai melepas masa lajang mereka, pacaran baru 3 bulan udah dilamar aja. Ahh, aku mupeng doang jadinya. Kesel juga, tadinya aku yang pengen nikah muda, ehh malah dilangkahin sama temen-temen yang dulunya ngledekin aku soal nikah muda. Tapi, aku pasti juga mendoakan kebahagiaan mereka, akhirnya para sahabat bertemu dengan jodohnya, yang semoga akan langgeng sampe kakek nenek. Amiiiin...
Nikah disini bukan soal kontes kecepatan, melainkan kontes ketepatan. Kalau kiranya belum menemukan seseorang yang "pas" di hati, ya jangan memaksakan. Nikah bukan soal adu gengsi, nikah itu soal bagaimana kita akan menghabiskan hidup kita bersama seseorang. Cantik/ganteng, tua dikit juga keriput. Kaya, kepleset dikit juga bangkrut. Jadi apa yang kita cari? Kita cari seseorang yang mampu berjalan di sebelah kita, yang tersenyum apapun masalah yang sedang dihadapi, mampu mengendalikan ego, tetap mengistimewakanmu walau banyak pilihan. Jika sudah mendapatkan seseorang yang seperti itu dan kita pun berlaku demikian terhadap orang tersebut dan kita juga udah merasa bahwa orang itu "pas" buat kita liat tiap bangun tidur pagi hari, tunggu apalagi?
Kekhawatiranku buat nikah tadi, jadi pertimbangan dalam memilih calon suami yang bakal aku liatin tiap hari nanti. Jangan-jangan nanti gini... jangan-jangan nanti gitu... Apapun lah pasti semua punya resiko. Sekarang tinggal kita-kitanya aja yang harus pinter-pinter memantaskan diri. Contohnya nih, kita pengen dapet suami yang sholeh, lah kalau kita ga sholeha, trus gimana? Kita pengen dapet suami yang rajin kerja, lah kalau kita bangun pagi aja males, trus gimana? Gampangnya kalau kita mau ABC, kita juga harus jadi ABC. Udah gitu aja simpel.

Dear my future husband...
Semoga nanti keluargamu menerima segala kekurangan keluargaku, begitu pun keluargaku.
Semoga nanti kamu masih mau berada di sampingku saat semua hendak menjauh, begitu pun diriku.
Semoga nanti kamu tidak tergoda jika melihat permata yang lebih indah, begitu pun diriku.
Semoga nanti kamu mau merawatku saat aku sakit, begitu pun diriku.
Semoga nanti kamu tetap sabar ketika sedang banyak masalah, begitu pun diriku.
Semoga nanti kamu tetap mengijinkanku melakukan semua aktivitas sosialku, begitu pun diriku.

Kenapa keluarga menjadi hal pertama yang aku tulis? Karena walaupun yang menikah adalah aku dan kamu, tetapi dibelakang kita ada 2 keluarga yang akan menjadi satu. Kita tidak bisa mengesampingkan mereka, memupuk ego kita untuk bersama jika keluarga kita tidak saling senang. Tampak sepele memang, tapi apapun keadaannya keluarga tetap menjadi prioritas untuk memutuskan suatu sikap. Jangan sampai ada omongan di belakang tentang keluarga masing-masing dikemudian hari. Kalau kita tetap mempertahankan ego untuk melanjutkan hubungan kita ketika keluarga kita tidak saling senang, jangan harap keluarga kita akan harmonis, pasti ada saja masalah, karena bagaimanapun keluarga secara tidak langsung akan ikut andil dalam setiap permasalahan yang ada.
Kalau sampe saat ini kita punya pasangan, trus makin lama makin ga jelas, makin sering berantem masalah sepele, udah positive thinking aja kalau Tuhan lagi berusaha nunjukin kalau pasangan kita emang ga cocok buat kita, mungkin lebih cocok dengan yang lain.

Jadi singkatnya nikah itu bukan kompetisi, jadi ga usah terburu-buru kalau memang belum "pas" di hati. Rajin-rajinlah memantaskan diri untuk dipilih, jangan maunya hanya memilih yang "high quality" tapi kitanya males-malesan aja.

Komentar

  1. Love you my future wife, tulisannya bagus sekali dan ngga neka-neko.

    Hmm
    Dilanjutkan terus dalam menulis ya dek, aku lihat kamu punya potensi akan hal itu.
    Siapa tau bisa jadi terkenal dengan menulis.. Seperti idolamu "Tere Liye".
    Sukses terus yaa

    BalasHapus
  2. Love you my future wife, tulisannya bagus sekali dan ngga neka-neko.

    Hmm
    Dilanjutkan terus dalam menulis ya dek, aku lihat kamu punya potensi akan hal itu.
    Siapa tau bisa jadi terkenal dengan menulis.. Seperti idolamu "Tere Liye".
    Sukses terus yaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berawal dari Basa-basi

Percaya atau tidak kalau semua berawal dari basa-basi? Iya. Seperti pengalaman saya kali ini, menemukan teman-teman yang asik dan bersahabat dengan baik sampai hari ini. Basa-basi tersebut dimulai ketika salah seorang teman berencana mengadakan liburan ke Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara Jawa Tengah pada tahun 2012 lalu. Pasky, mempublikasikan tentang rencana liburannya ke Pulau Karimunjawa lewat BBM, untuk menawarkan rencana trip Karimunjawa selama 3 hari 2 malam. Tanpa fikir panjang, saya privat chat untuk mengikuti trip tersebut. Setelah itu saya dan beberapa teman-teman berkumpul untuk membahas trip Karimunjawa ini.  Dari basa-basi itulah personil yang terkumpul adalah: Pasky Della Dyas Ikhsani Farid N Hidayat   Arka Yanitama M Firmansyah Kania Widiatami Hesty Dyah Saya sendiri Naaaahhh dari basa-basi inilah kita menelma menjadi sahabat yang kita namakan Genk Okol sekumpulan orang-orang penuh intrik dan tipuan....

#2019HarusBahagia (2)

Udah baca part 1 kan? Lanjut ya ☺️ Intinya ya 3 tahun ke belakang itu lagi sedih-sedihnya. Kita sebagai pribadi yang percaya keberadaan Tuhan harus percaya dong ya sama apa yang bakal Tuhan kasih untuk kita. Ga ada kehilangan kalau ga ada gantinya, itu sih yang aku jadiin pegangan selama ini. Semua masalah di hidup ini, bahagia, susah, sedih, itu sifatnya hanya sementara seperti siang dan malam. Pasti datang silih berganti. Mau diapain tetep kayak gitu. Ga ada satupun orang yang ga luput dari masalah apalagi kehilangan. Ya kan?! Intinya janji sama diri sendiri, AKU BISA BAHAGIA. Bertemu lelaki sesuai impian, menikmati, dan menjalani sisa umur dengan bahagia 🙂 Sekarang aku ga mau mikir apa kata orang lagi, apalagi kalau nyakitin diri sendiri, ga bikin bahagia, malahan bisa bikin nambah frustasi. Sengsara juga kita sendiri yang rasain, bukan orang lain. Wkwk! Karena beneran deh, hidup di bawah tekanan sosial, berdasar omongan orang, ga bakal bikin kita bahagia. Terlalu memak...

Berbisik pada Malam

Wajar saja jika kita merasakan bahagia, sedih, atau perasaan biasa saja, itu karena kita adalah manusia, yang diciptakan dengan "paket lengkap" oleh Tuhan, termasuk perasaan didalam diri masing-masing. Justru aneh atau tidak wajar jika kita tidak memiliki salah satu rasa yang saya sebut tadi, rasa-rasanya tidak afdol untuk menjadi manusia seutuhnya. Tapi ingat, sesuatu yang berlebihan itu tak baik bukan? Jadi, berbahagialah sewajarnya, sedih sewajarnya, atau dengan kata lain bersikap biasa saja jangan terlalu heboh. Saya pernah merasakan, entah rasa apa, yang pasti kebingungan yang sungguh luar biasa, kegelisahan, kegaduhan hati yang terus mengusik tidur, dan terbangun dengan perasaan hampa yang berlebihan. Bukan karena cinta ala ABG, tetapi kegelisahan mengenai hidup yang stagnan dan tidak ada kegiatan menantang yang harus dijalani, seperti bentuk lain dari kebosanan dan kejenuhan yang berlarut-larut. Apa yang telah saya lakukan? Apa salah saya? Pertanyaan itulah yang s...