Langsung ke konten utama

Pesta Demokrasi yang Salah Arti



Tahun 2014 ini, bangsa Indonesia menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan yaitu pemilu legislatif dan pemilu presiden. Pemilu legislatif diselenggarakan pada tanggal 9 April 2014 lalu, sedangkan pemilu presiden dan wakil presiden akan diselenggarakan pada tanggal 9 Juli 2014. Bahagia tentu saja sangat dirasakan oleh masyarakat dalam menyambut pesta demokrasi lima tahunan ini. Masyarakat memiliki antusiasme yang sangat tinggi terhadap pemilu, ini merupakan suatu pencapaian yang sangat luar biasa karena masyarakat tidak lagi apatis dan mau bergabung untuk menyemarakkan pesta demokrasi ini. Dua pasang calon presiden dan wakil presiden telah resmi terdaftar sebagai calon pemimpin negara untuk lima tahun kedepan. Kedua pasang kandidat memiliki keunggulan masing-masing dan kedua pasang tersebut sama-sama layak untuk menjadi pemimpin negeri ini, tapi kembali lagi bahwa hanya ada satu pasang yang akan memimpin negara ini. 
Pengertian demokrasi sendiri menurut Abraham Lincoln adalah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa rakyat mempunyai kedaulatan penuh untuk menentukan bagaimana proses politik dalam suatu negara yang menganut sistem demokrasi akan berlangsung, semua keputusan ditentukan oleh rakyat untuk dikembalikan lagi untuk kepentingan rakyat. Implementasi demokrasi di Indonesia sudah cukup baik, terlihat dari peran aktif masyarakat, pers, dan keterbukaan pemerintah dalam salah satu kegiatan representasi demokrasi yaitu pemilu. Terlepas dari hal tersebut, ada satu hal yang sangat disayangkan dari representasi demokrasi di Indonesia pada pemilihan presiden kali ini, tingginya antusiasme masyarakat tidak dibarengi dengan penerapan prinsip demokrasi, seperti pluralisme sosial ekonomi politik serta nilai-nilai tolerasi. Saat ini Black Campaign banyak dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab untuk meraih simpati masyarakat luas, perang argumen pun bermunculan akibat perbedaan pendapat untuk mempertahankan daya saing. Media dengan segala berita dan informasi yang disajikan nampak sebagai "alat" perang oleh masyarakat, berita apapun yang disajikan jika sesuai dengan kepentingan oknum tersebut akan cepat tersebar melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter. Coba lihat lagi prinsip demokrasi yang ada menyebutkan nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerjasama, dan mufakat. Bukankah seharusnya kita saling tukar pendapat dengan mengedepanan nilai toleransi untuk mencapai mufakat? Sampai saat ini yang terjadi adalah saling adu argumen dan merasa paling benar antar satu dengan yang lainnya tanpa mengindahkan prinsip-prinsip demokrasi yang sebenarnya. Pendapat yang berisi opini dengan kecenderungan fitnah yang disampaikan, perasaan saling curiga menjadi hal yang wajar dilakukan tanpa cross check kebenaran masing-masing pendapat tersebut.
Inilah yang dimaksudkan dengan pesta demokrasi yang salah arti, seharusnya kita dengan bersuka cita menyambut pesta lima tahunan ini dengan baik, tapi kenyataan di lapangan kurang sesuai dengan prinsip demokrasi yang sebenarnya. Semoga masyarakat melaksanakan pesta lima tahunan ini dengan antusias positif, karena tidak ada untungnya melakukan hal seperti itu, itu hanya akan memperburuk penilaian negara lain terhadap proses demokrasi di negara kita. Suka tidak suka, mau tidak mau, salah satu pasang kandidat presiden dan wakil presiden tersebut akan memimpin negara kita, Indonesia.


STOP BLACK CAMPAIGN!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berawal dari Basa-basi

Percaya atau tidak kalau semua berawal dari basa-basi? Iya. Seperti pengalaman saya kali ini, menemukan teman-teman yang asik dan bersahabat dengan baik sampai hari ini. Basa-basi tersebut dimulai ketika salah seorang teman berencana mengadakan liburan ke Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara Jawa Tengah pada tahun 2012 lalu. Pasky, mempublikasikan tentang rencana liburannya ke Pulau Karimunjawa lewat BBM, untuk menawarkan rencana trip Karimunjawa selama 3 hari 2 malam. Tanpa fikir panjang, saya privat chat untuk mengikuti trip tersebut. Setelah itu saya dan beberapa teman-teman berkumpul untuk membahas trip Karimunjawa ini.  Dari basa-basi itulah personil yang terkumpul adalah: Pasky Della Dyas Ikhsani Farid N Hidayat   Arka Yanitama M Firmansyah Kania Widiatami Hesty Dyah Saya sendiri Naaaahhh dari basa-basi inilah kita menelma menjadi sahabat yang kita namakan Genk Okol sekumpulan orang-orang penuh intrik dan tipuan....

#2019HarusBahagia (2)

Udah baca part 1 kan? Lanjut ya ☺️ Intinya ya 3 tahun ke belakang itu lagi sedih-sedihnya. Kita sebagai pribadi yang percaya keberadaan Tuhan harus percaya dong ya sama apa yang bakal Tuhan kasih untuk kita. Ga ada kehilangan kalau ga ada gantinya, itu sih yang aku jadiin pegangan selama ini. Semua masalah di hidup ini, bahagia, susah, sedih, itu sifatnya hanya sementara seperti siang dan malam. Pasti datang silih berganti. Mau diapain tetep kayak gitu. Ga ada satupun orang yang ga luput dari masalah apalagi kehilangan. Ya kan?! Intinya janji sama diri sendiri, AKU BISA BAHAGIA. Bertemu lelaki sesuai impian, menikmati, dan menjalani sisa umur dengan bahagia 🙂 Sekarang aku ga mau mikir apa kata orang lagi, apalagi kalau nyakitin diri sendiri, ga bikin bahagia, malahan bisa bikin nambah frustasi. Sengsara juga kita sendiri yang rasain, bukan orang lain. Wkwk! Karena beneran deh, hidup di bawah tekanan sosial, berdasar omongan orang, ga bakal bikin kita bahagia. Terlalu memak...

Berbisik pada Malam

Wajar saja jika kita merasakan bahagia, sedih, atau perasaan biasa saja, itu karena kita adalah manusia, yang diciptakan dengan "paket lengkap" oleh Tuhan, termasuk perasaan didalam diri masing-masing. Justru aneh atau tidak wajar jika kita tidak memiliki salah satu rasa yang saya sebut tadi, rasa-rasanya tidak afdol untuk menjadi manusia seutuhnya. Tapi ingat, sesuatu yang berlebihan itu tak baik bukan? Jadi, berbahagialah sewajarnya, sedih sewajarnya, atau dengan kata lain bersikap biasa saja jangan terlalu heboh. Saya pernah merasakan, entah rasa apa, yang pasti kebingungan yang sungguh luar biasa, kegelisahan, kegaduhan hati yang terus mengusik tidur, dan terbangun dengan perasaan hampa yang berlebihan. Bukan karena cinta ala ABG, tetapi kegelisahan mengenai hidup yang stagnan dan tidak ada kegiatan menantang yang harus dijalani, seperti bentuk lain dari kebosanan dan kejenuhan yang berlarut-larut. Apa yang telah saya lakukan? Apa salah saya? Pertanyaan itulah yang s...