Langsung ke konten utama

Kita itu Lucu (1)

Hiiiiihhh gregetan rasanya kalau kita berada dalam situasi lucu, berada disekitar orang-orang lucu, dan tanpa sadar kita juga lucu.
Lucu yang aku maksud disini bukan berarti kita lagi ngelawak atau lagi becanda untuk menghangatkan suasana, bukan lucu dalam arti sebenarnya. "Lucu ya, kok bisa orang bertindak seperti itu. Lucu ya, kok ada orang yang plin plan kayak gitu.", begitu kira-kira fikirku. Lucu untuk ungkapan sarkastik terhadap situasi, keadaan, dan sikap orang yang tidak sesuai.

Banyak ketemu orang baru, banyak sharing pengalaman, banyak juga cerita lucu yang kekumpul. Tapi ga usah susah-susah nyeritain kelucuan orang lain lah ya, diri sendiri juga sering lucu mendekati bego kok ya 😀

Pengalaman dari cerita pridadi. Cewek berumur 25tahun yg penuh segudang mimpi indah. Seolah diri sendiri adalah ratu atas kehidupannya.
Menjalin hubungan pacaran dengan seseorang selama 9 tahun. Mencoba memahami setiap sikap dan sifat satu sama lain. Sering tidak cocok, berantem, putus, dan kembali karena rindu. Memutuskan untuk menikah, karena atas dasar "eman-eman wis sue" dan "ndak yo meh ngene terus".

Memaksakan setiap ego dan ketidakcocokan. Susah mengerti satu sama lain. Bahkan komunikasi pun tidak berjalan dengan baik. Ya... semua itu kita lupakan demi mendapat status sebagai suami istri. Mencoba "baik-baik saja" dan mampu menepis fikiran negatif atas semua kejelekan tadi. Sampai akhirnya aku ga tau lagi harus bagaimana.

Wanita mana yang tidak ingin bahagia? Wanita mana yang tidak ingin menjadi wanita tercantik dalam hidup seorang lelaki? Wanita mana yang tidak ingin bersandar di bahu lelaki yang diperjuangkannya?

Semuanya terdengar seperti 9tahun yang sia-sia. Sia-sia untuk mengerti setiap komitmen yang dilanggar, sia-sia untuk mengerti ego yang sudah dipangkas habis, sia-sia untuk memperjuangkan pilihan ini.

Too much to hurt... Itu kata simple untuk mewakili semuanya.

Hai, ketika kamu tidak mau diganggu ketika bekerja, aku memangkas ego untuk tidak menghubungimu selama kamu bekerja dan meminta waktu malammu untuk sekedar menceritakan semua masalah yang aku alami seharian di tempat kerjaku. Tapi apa yang aku dapat? Kamu tetap sibuk dan tidak pernah menghubungiku sebelum jam 10 malam. Entah apa saja yang kamu lakukan, aku mencoba percaya.

Hai, ingat ketika aku memberimu kado diulang tahunmu ke 25 tahun dan aku memberikannya secara langsung? Bahkan ketika jarak kota tempatmu bekerja sejauh 5jam perjalanan dengan moda transportasi umum berupa bus ekonomi saja, aku masih meyakinkan diri untuk kesana berpanas-panas ria demi surprise ini. Apa yang aku dapat? Kamu langsung menyuruhku pulang dengan cara mencarikan bus ekonomi yang lewat di depan kantormu.

Hai, ingat ketika aku ingin bertemu denganmu setiap minggu sewaktu weekend? Aku ingin membeli waktu sibukmu selama bekerja. Apa yang aku dapat? Kamu memprotesnya, "Kenapa kita harus ketemu tiap minggu? Aku cape kalau harus pulang tiap minggu." Iya, dan akhirnya kamu menyempatkan pulang dan bertemu denganku 3-4 minggu sekali.

Hai, ingat ketika malam tahun baru aku meminta waktumu untuk sekedar ikut bergembira merayakan pergantian tahun? Apa yang aku dapat? Kamu memberiku kabar, "Aku lembur tutup tahun sampai jam 4 pagi. Jadi aku ga bisa nemuin kamu." Aku percaya saja dan memilih tidur untuk bersikap biasa saja.

Hai, aku tidak pernah mengecek handphonemu. Bahka  aku tidak punya akun socmedmu. Aku percaya penuh denganmu. Pernah sekali waktu aku tidak sengaja melihat list chatting mu di WhatsApp dan aku lihat ada sebuah nama di list teratas. Padahal aku tidak pernah menghubungimu karena aku berkomitmen tidak mengganggumu sebelum kamu menghubungiku. Aku mencoba baik-baik saja. Sehari kemudian aku meminta ijin meminjam handphone mu, dan aku lihat nama itu sudah tidak ada (delete chat). Aku pun mulai cemburu, menanyakan kenapa harus dihapus. Pertama kamu menjawab cuma ngobrol masalah kerja. Beberapa hari kemudian aku menanyakan lagi kamu menjawab cerita tentangku. Inkonsistensi... Ketahuilah kenapa wanita sering bertanya hal yang sama berulang kali hanya untuk memastikan saja.

..................




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berawal dari Basa-basi

Percaya atau tidak kalau semua berawal dari basa-basi? Iya. Seperti pengalaman saya kali ini, menemukan teman-teman yang asik dan bersahabat dengan baik sampai hari ini. Basa-basi tersebut dimulai ketika salah seorang teman berencana mengadakan liburan ke Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara Jawa Tengah pada tahun 2012 lalu. Pasky, mempublikasikan tentang rencana liburannya ke Pulau Karimunjawa lewat BBM, untuk menawarkan rencana trip Karimunjawa selama 3 hari 2 malam. Tanpa fikir panjang, saya privat chat untuk mengikuti trip tersebut. Setelah itu saya dan beberapa teman-teman berkumpul untuk membahas trip Karimunjawa ini.  Dari basa-basi itulah personil yang terkumpul adalah: Pasky Della Dyas Ikhsani Farid N Hidayat   Arka Yanitama M Firmansyah Kania Widiatami Hesty Dyah Saya sendiri Naaaahhh dari basa-basi inilah kita menelma menjadi sahabat yang kita namakan Genk Okol sekumpulan orang-orang penuh intrik dan tipuan....

#2019HarusBahagia (2)

Udah baca part 1 kan? Lanjut ya ☺️ Intinya ya 3 tahun ke belakang itu lagi sedih-sedihnya. Kita sebagai pribadi yang percaya keberadaan Tuhan harus percaya dong ya sama apa yang bakal Tuhan kasih untuk kita. Ga ada kehilangan kalau ga ada gantinya, itu sih yang aku jadiin pegangan selama ini. Semua masalah di hidup ini, bahagia, susah, sedih, itu sifatnya hanya sementara seperti siang dan malam. Pasti datang silih berganti. Mau diapain tetep kayak gitu. Ga ada satupun orang yang ga luput dari masalah apalagi kehilangan. Ya kan?! Intinya janji sama diri sendiri, AKU BISA BAHAGIA. Bertemu lelaki sesuai impian, menikmati, dan menjalani sisa umur dengan bahagia 🙂 Sekarang aku ga mau mikir apa kata orang lagi, apalagi kalau nyakitin diri sendiri, ga bikin bahagia, malahan bisa bikin nambah frustasi. Sengsara juga kita sendiri yang rasain, bukan orang lain. Wkwk! Karena beneran deh, hidup di bawah tekanan sosial, berdasar omongan orang, ga bakal bikin kita bahagia. Terlalu memak...

Berbisik pada Malam

Wajar saja jika kita merasakan bahagia, sedih, atau perasaan biasa saja, itu karena kita adalah manusia, yang diciptakan dengan "paket lengkap" oleh Tuhan, termasuk perasaan didalam diri masing-masing. Justru aneh atau tidak wajar jika kita tidak memiliki salah satu rasa yang saya sebut tadi, rasa-rasanya tidak afdol untuk menjadi manusia seutuhnya. Tapi ingat, sesuatu yang berlebihan itu tak baik bukan? Jadi, berbahagialah sewajarnya, sedih sewajarnya, atau dengan kata lain bersikap biasa saja jangan terlalu heboh. Saya pernah merasakan, entah rasa apa, yang pasti kebingungan yang sungguh luar biasa, kegelisahan, kegaduhan hati yang terus mengusik tidur, dan terbangun dengan perasaan hampa yang berlebihan. Bukan karena cinta ala ABG, tetapi kegelisahan mengenai hidup yang stagnan dan tidak ada kegiatan menantang yang harus dijalani, seperti bentuk lain dari kebosanan dan kejenuhan yang berlarut-larut. Apa yang telah saya lakukan? Apa salah saya? Pertanyaan itulah yang s...