Langsung ke konten utama

Kota Wisata Batu

Libur tahun baru hijriyah pada tanggal 14 Oktober 2015 lalu saya manfaatkan untuk berlibur ke Kota Wisata Batu. Tapi ga mungkin juga kan liburan disana sehari doang? Alhasil saya mengambil jatah cuti 2 hari tanggal 12 - 13 Oktober 2015. Saya berangkat dari Semarang tanggal 10 Oktober 2015 dengan kereta ekonomi Majapahit pukul 00.53 WIB dan sampai di Stasiun Malang Kota Baru pada pukul 10.00 WIB. Sebelum saya menjelajah kota Batu, saya sempatkan untuk mencari berbagai infomasi mengenai moda transportasi publik yang ada di Malang dan Batu. Di Malang, moda transportasi publik mudah didapatkan dan mencakup sebagian besar jalan utama disana, berbeda dengan Batu, pilihan moda transportasi publik sedikit dan jam operasional hanya sampai pukul 17.30 tiap harinya, lebih dari jam tersebut sudah tidak ada moda tranportasi publik yang terlihat. Sulitnya moda transportasi publik itu membuat saya memutar akal untuk menyewa motor saja selama liburan saya. Selain lebih hemat, juga bisa dipakai 24 jam sehari mondar-mandir tanpa perlu takut salah arah/salah jurusan seperti kalau naik angkot atau bus. Setelah surfing internet mencari informasi mengenai persewaan motor di Malang, saya menemukan satu persewaan yang cukup aktif dalam merespon keluhan customer di website persewaan motor tersebut. Saya contact Arfand Motor untuk booking sewa motor selama 3 hari 1 minggu sebelum keberangkatan saya ke Malang. Kenapa saya booking sewa motor jauh-jauh hari? Kenapa tidak go show saja? Karena berdasar pengalaman saya saat berlibur pada high season seperti ini, sewa motor akan laris manis dan full booked. Jadi kalau tidak pesan jauh-jauh hari, siap-siap saja mengeluarkan uang lebih banyak untuk sekedar menumpang taxi (kalau ga mau ribet nanya-nanya arah dan tujuan), ya kalau supir taxinya ga nakal bisa cepet sampai, kalau nakal? Hmm siap-siap diajak muter-muter sampai argo membengkak aja. Hehehe. Kalau naik angkot? Bisa banget, tapi tidak pasti turun persis di depan tempat tujuan kita, bisa aja habis naik angkot masih jalan lagi, berlamaaaa.... lamaaaa.... kemudian. Balik lagi ke cerita sewa motor, pada tanggal tersebut persewaan motor tidak bisa mengantarkan motor pesanan saya ke stasiun dan harus diambil sendiri ke pool persewaan di dekat Kampus UIN Malang. Saat itu saya mencari informasi moda transportasi apa yang memungkinkan saya sampai di pool tersebut dengan mudah (karena ini pengalaman pertama saya ke Malang, jadi belum mengerti dan belum ada gambaran tentang Malang sedikitpun). Saya disarankan dari stasiun untuk naik angkot AL dan turun di depan kampus UIN Malang. Tanpa fikir panjang saya mengikuti saran tersebut, dan memang mudah menemukan angkot AL disana, hampir tiap 3 menit ada angkot AL lewat di depan stasiun. Tanpa kesusahan saya tiba tepat di depan pool persewaan motor dan langsung mengurus administrasi sewa motor. Setelah selesai mengurus semua syarat administrasi, motor sudah siap pakai, saya melanjutkan perjalanan ke Batu. Tidak perlu putar arah atau bingung mencari arah ke Kota Batu, karena kebetulan pool sewa motor tersebut searah dengan jalan utama ke Kota Batu. Jangan takut kesasar, GPS siap membantu. Kalau tidak ada GPS, bisa lihat penunjuk jalan yang ada di sepanjang jalan. Kalau tidak ada penunjuk jalan, kita bisa tanya sana-sini dengan orang yang kita jumpai di jalanan. Be easy for everything.

Sampai di Kota Batu
Butuh kurang lebih 30menit perjalanan untuk sampai ke Kota Batu dan saya langsung menuju ke penginapan yang juga sudah saya pesan jauh-jauh hari melalui situs Agoda. Saya memilih penginapan yang berada dekat dengan lokasi objek wisata Batu, di jalan Untung Suropati. Hanya 5 menit mengendarai motor menuju Museum Angkut dan 7 menit menuju Jatim Park I, Jatim Park II, Museum Satwa, dan Eco Green Park.

Day 1
Sabtu (10/10) setelah meletakkan barang-barang bawaan di penginapan, saya memutuskan untuk mengunjungi Museum Angkut. Tiket masuk sebesar Rp 80.000 karena saya datang saat weekend dan tiket kamera Rp 30.000 (karena bawa DSLR), kalau tidak beli tiket kamera, bisa-bisa kamera kita dirampas saat sedang asyik foto-foto. Sebenarnya ada tiket terusan ke Museum Topeng yang juga berada di lokasi Museum Angkut, tapi saya kurang tertarik untuk mengunjunginya mengingat saya baru datang pukul 15.00. Tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar negeri atau ke pabrik pembuatan kendaraan jaman dulu, disini semua jenis kendaraan ada semua. Saya tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat kendaraan-kendaraan jadul yang mempunyai body interior dan eksterior yang sangat menawan. Kesan klasik tidak membuat kendaraan tersebut terlihat usang, justru terlihat super elegan. Berbagai informasi mengenai kendaraan juga terpampang jelas, bukan hanya indah dinikmati, melainkan juga bagus untuk edukasi otomotif.





Tidak hanya bagian indoor yang ditata apik, bagian outdoor juga ditata seperti kita sedang berjalan-jalan di luar negeri sungguhan. Wow! Saya semakin sering mengabadikan foto. Beruntung cuaca sangat cerah saat itu, sangat mendukung acara jalan-jalan saya walaupun harus outdoor





Day 2
Minggu (11/10) saya menjadwalkan untuk mengunjungi Eco Green Park, Jatim Park II, dan Batu Night Spectacular (BNS) pada malam harinya. Dengan membeli tiket terusan senilai Rp 125.000 saya sudah bisa masuk ke Eco Green Park dilanjutkan Jatim Park II. Jatim Park II diisi berbagai jenis satwa yang belum pernah saya temui di kebun binatang lain, sangat lenkap, sayangnya belum ada koleksi pinguin dan panda, padahal saya ingin melihat dua binatang lucu tersebut. Di dalam Jatim Park selain memamerkan koleksi satwa, juga ada wahana permainan dan gratis tidak perlu bayar lagi. Saya berfikir, "Hebat ya tempat wisata ini, bayar sekali sudah termasuk biaya naik semua wahana permainan. Nggak kayak tempat wisata di kota lain yang bayar mahal cuma untuk biaya masuknya saja. Hehehe."





Puas menikmati melihat-lihat berbagai satwa di Jatim Park II, saya melanjutkan tamasya ke Eco Green Park. Lebih spesifik menampilkan koleksi burung dan unggas. Berbagai jenis burung ada disini. Tidak jauh beda dengan tempat-tempat yang saya kunjungi sebelumnya, disini juga banyak informasi dan papan edukasi untuk menambah pengetahuan mengenai burung.


Tidak berhenti sampai situ saja, disini juga ada wahana air dan wahana rumah terbalik. Tapi siap-siap sering kaget saja, karena di Rumah Terbalik ini dilengkapi dengan barang-barang yang bisa bergerak sendiri dengan efek suara yang bisa membuat kaget dan merinding. Saya kagum dengan konsep Rumah Terbalik ini, bisa mendesain berbagai ruangan seperti di rumah bisa dengan konsep terbalik.



Kayaknya ga afdol kalau ga main seharian, ya ga sih? Hehehe. Malam harinya saya ke BNS, 10 menit dari penginapan saya, akses jalan mudah, hanya saja kurang penerangan di malam hari dan entah kenapa saya merasa Kota Batu sangat sepi di malam hari, untuk ukuran kota wisata. Tiket masuk seharga Rp 30.000 saat weekend, tidak termasuk tiket wahana permainan. Tapi jika ingin menikmati semua wahana permainan disini, bisa beli tiket terusan seharga Rp 100.000 untuk tiket masuk dan tiket semua wahana permainan (kecuali wahana go kart).



Day 3
Senin (12/10) saya berencana pergi ke Gunung Bromo, yaaah liburan jangan di wahana permainan terus lah, sekali-kali mengunjungi wisata alamnya boleh juga. Saya mulai membuka aplikasi maps, melihat seberapa jauh perjalanan yang akan saya tempuh dari Batu ke Gunung Bromo. Setelah mendapat gambaran perjalanan, saya sempat surfing internet untuk sekedar menghabiskan waktu sebelum melakukan perjalanan ke Bromo. Ternyata hari itu bertepatan dengan kunjungan mantan presiden RI, SBY ke Malang dalam rangka peresmian Gedung Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono di Kampus UIN Malang. Seketika itu saya langsung membatalkan rencana saya ke Gunung Bromo, saya tidak mau membuang-buang waktu saya dijalan hanya karena jalanan lebih ramai dengan kedatangan beliau. Pastilah jalanan jadi macet, banyak pengalihan jalur, itu pasti akan membuat bingung saya yang tidak paham dengan kondisi Kota Malang. Akhirnya saya mengganti schedule hari itu dengan mengunjungi Jatim Park I dan Museum Tubuh. Tiket terusan sebesar Rp 70.000 untuk weekday sudah ditangan, dan saya memulai dari Museum Tubuh terlebih dahulu. Museum ini didesain seakan-akan kita sedang berada di dalam tubuh manusia, kita belajar mengelai organ dalam tubuh dan kegunaannya, serta masalah yang akan timbul jika mengalami kerusakan. Tempat ini sangat edukatif, cocok untuk kunjungan study tour yang sering diadakan sekolah-sekolah. 
Selesai dari Museum Tubuh saya melanjutkan kunjungan ke Jatim Park I. Disini ada berbagai karya IPTEK, pengenalan sejarah, dan ada wahana permainan juga water boom. Cocok juga untuk tujuan study tour karena sangat edukatif dan menyenangkan berkunjung kesini. Sayang banyak bagian yang tidak terawat, stafnya juga tidak se-ramah dan se-edukatif di tempat lain yang sebelumnya sudah saya kunjungi. Banyak alat peraga IPTEK yang berdebu, usang, dan kolam air yang keruh. 




Day 4
Selasa (13/10) liburan telah usaaaaaiii... saatnya pulang... Saya memutuskan untuk pulang kembali ke Semarang pada hari selasa karena saya menghidari high season arus balik liburan yang terjadi pada hari Rabu (14/10), sekalian untuk masa istirahat sebelum bekerja kembali pada hari Kamis (15/10). Lagi-lagi saya memanfaatkan moda transportasi publik kereta api, kali ini dengan KA Jayabaya, selisih 2,5 jam perjalanan dibanding menggunakan KA Majapahit saat berangkat lalu, "Tau gitu dari kemarin pake KA Jayabaya aja.", fikir saya. Interior KA Jayabaya juga lebih bagus, lebih nyaman, lebih luas, dan lebih cepat dibandingkan KA Majapahit.

Kalau kamu sering pusing pas lagi kerja, sering ngeluh ga jelas obatnya adalah banyak-banyak ibadah dan PIKNIK! Yap, setelah kita berkutat dengan komputer setiap hari, kita butuh refreshing di akhir pekan. Jangan bebani otak dengan pekerjaan setiap waktu. Terbukti, setelah piknik otak jadi fresh, masuk kantor ketawa-ketiwi siap untuk lelah bekerja lagi, kumpulin duit lagi, piknik lagi. Hehehe. Dengan piknik juga bikin kita jadi pribadi yang lebih asik, ga melulu ngomongin orang, karena kita ga punya waktu buat itu.

SALAM PIKNIK ASIK

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berawal dari Basa-basi

Percaya atau tidak kalau semua berawal dari basa-basi? Iya. Seperti pengalaman saya kali ini, menemukan teman-teman yang asik dan bersahabat dengan baik sampai hari ini. Basa-basi tersebut dimulai ketika salah seorang teman berencana mengadakan liburan ke Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara Jawa Tengah pada tahun 2012 lalu. Pasky, mempublikasikan tentang rencana liburannya ke Pulau Karimunjawa lewat BBM, untuk menawarkan rencana trip Karimunjawa selama 3 hari 2 malam. Tanpa fikir panjang, saya privat chat untuk mengikuti trip tersebut. Setelah itu saya dan beberapa teman-teman berkumpul untuk membahas trip Karimunjawa ini.  Dari basa-basi itulah personil yang terkumpul adalah: Pasky Della Dyas Ikhsani Farid N Hidayat   Arka Yanitama M Firmansyah Kania Widiatami Hesty Dyah Saya sendiri Naaaahhh dari basa-basi inilah kita menelma menjadi sahabat yang kita namakan Genk Okol sekumpulan orang-orang penuh intrik dan tipuan....

#2019HarusBahagia (2)

Udah baca part 1 kan? Lanjut ya ☺️ Intinya ya 3 tahun ke belakang itu lagi sedih-sedihnya. Kita sebagai pribadi yang percaya keberadaan Tuhan harus percaya dong ya sama apa yang bakal Tuhan kasih untuk kita. Ga ada kehilangan kalau ga ada gantinya, itu sih yang aku jadiin pegangan selama ini. Semua masalah di hidup ini, bahagia, susah, sedih, itu sifatnya hanya sementara seperti siang dan malam. Pasti datang silih berganti. Mau diapain tetep kayak gitu. Ga ada satupun orang yang ga luput dari masalah apalagi kehilangan. Ya kan?! Intinya janji sama diri sendiri, AKU BISA BAHAGIA. Bertemu lelaki sesuai impian, menikmati, dan menjalani sisa umur dengan bahagia 🙂 Sekarang aku ga mau mikir apa kata orang lagi, apalagi kalau nyakitin diri sendiri, ga bikin bahagia, malahan bisa bikin nambah frustasi. Sengsara juga kita sendiri yang rasain, bukan orang lain. Wkwk! Karena beneran deh, hidup di bawah tekanan sosial, berdasar omongan orang, ga bakal bikin kita bahagia. Terlalu memak...

Berbisik pada Malam

Wajar saja jika kita merasakan bahagia, sedih, atau perasaan biasa saja, itu karena kita adalah manusia, yang diciptakan dengan "paket lengkap" oleh Tuhan, termasuk perasaan didalam diri masing-masing. Justru aneh atau tidak wajar jika kita tidak memiliki salah satu rasa yang saya sebut tadi, rasa-rasanya tidak afdol untuk menjadi manusia seutuhnya. Tapi ingat, sesuatu yang berlebihan itu tak baik bukan? Jadi, berbahagialah sewajarnya, sedih sewajarnya, atau dengan kata lain bersikap biasa saja jangan terlalu heboh. Saya pernah merasakan, entah rasa apa, yang pasti kebingungan yang sungguh luar biasa, kegelisahan, kegaduhan hati yang terus mengusik tidur, dan terbangun dengan perasaan hampa yang berlebihan. Bukan karena cinta ala ABG, tetapi kegelisahan mengenai hidup yang stagnan dan tidak ada kegiatan menantang yang harus dijalani, seperti bentuk lain dari kebosanan dan kejenuhan yang berlarut-larut. Apa yang telah saya lakukan? Apa salah saya? Pertanyaan itulah yang s...