Langsung ke konten utama

Besok Kita Pesta

Pernah membayangkan bagaimana serunya berpesta bagi anak muda?
Ya! Pasti sangat menyenangkan dan semuanya bergembira.
Semuanya menunggu, menungggu moment lima tahunan yang diselenggarakan Indonesia sebagai negara demokrasi yaitu Pemilu. Bisa meliputi pemilu legislatif, presiden, dan kepala daerah.
Salah satu yang akan berlangsung pada tanggal 9 Juli 2014 nanti adalah pemilu presiden dan wakil presiden. Dimana akan dipilih presiden dan wakil presiden secara langsung oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat yang akan memimpin negara Indonesia pada lima tahun kedepan. Terdapat 2 kandidat sebagai calon presiden Indonesia periode tahun 2014 - 2019, yaitu nomor urut 1 Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sedangkan nomor urut 2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla.


Masing-masing dari kedua calon sangat berkompeten dan layak dijadikan pemimpin bangsa ini. Perbedaannya hanya pada background kandidat, Prabowo memiliki latar belakang sebagai TNI dan Joko Widodo memiliki latar belakang sebagai kepala daerah Kota Solo (2 periode) dan DKI Jakarta yang dipilih melalui pemilu. Tidak hanya perbedaan, keduanya juga memiliki persamaan yaitu sebagai pengusaha. Prabowo memiliki usaha dibidang energi (minyak) dan Joko Widodo memiliki usaha dibidang furniture.
Beberapa waktu lalu kita juga sudah menyaksikan debat terbuka yang diselenggarakan oleh KPU yang dimoderatori oleh beberapa dosen/rektor dari berbagai universitas di Indonesia. Dari debat terbuka kita tentunya akan tahu mengenai pandangan serta argumen-argumen dari masing-masing kandidat baik capres maupun cawapres dalam menyampaikan visi misi, menjawab pertanyaan moderator, hingga menanggapi pernyataan antar kandidat.
Pemilih yang baik tentunya mau dan berpartisipasi dalam pendidikan politik yang disampaikan kandidat melalui berbagai cara salah satunya debat terbukayang diselenggarakan KPU beberapa waktu lalu. Dari sinilah diharapkan masyarakat dapat memilih secara realistis, tidak terpaku hanya pada satu argumen yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Memilih secara cerdas dan realistis, tanpa mencari-cari celah kesalahan dari kandidat tertentu. Tentunya kita akan bangga bukan jika calon presiden kita mendapat apresiasi positif dari politik internasional? Jika kita hanya menjelek-jelekkan calon presiden kita, apa kata negara tetangga nanti? Apa tanggapan politik internasional terhadap sikap masyarakat Indonesia yang seperti itu?
Berpartisipasi dalam politik memang sangat diperlukan sebagai wujud dari sistem demokrasi yang dianut oleh Negara Indonesia, tapi kita juga harus mengetahui batasan-batasan yang diperlukan dalam beragumen, bagaimana dasar permasalahannya, hingga ilmu yang tepat untuk memberi solusi atas permasalahan yang ada. Bukankah semuanya harus seimbang? Begitupun argumen, harus berimbang. Begitupun kritik, harus berimbang juga. Jika kita mempunyai kritik tajam sebagai akibat dari kegelisahan mengenai suatu hal, kita juga harus memikirkan apa yang cukup dijadikan solusi untuk kegelisahan tersebut.
Itulah sebabnya sekarang ini banyak bermunculan black campaign  di masyarakat. kurangnya kesadaran masyarakat tentang adanya keseimbangan akan membuat keadaan semakin kacau. Legitimasi pemerintah juga turun, yang akan mengakibatkan kepercayaan politik internasional juga menurun, sangat disayangkan bukan? Kita yang akan merugi karena ulah kita sendiri karena tidak bisa berlaku adil dan menyeimbangkan keadaan.
9 Juli 2014 nanti kita akan merayakan pesta, pesta demokrasi lima tahunan, pemilihan presiden dan wakil presiden. Kita sebagai rakyat Indonesia, dan saya sebagai kaum muda khususnya, harus menyambut pesta ini dengan riang gembira, bukan permusuhan, dan bukan kegelisahan yang tidak berarti. Bukankah pesta itu seharusnya menyenangkan dan membahagiakan jiwa? Lihat lagi pada diri masing-masing, introspeksi diri, lihat apakah kita sudah benar atau masih belum benar. Tidak perlu terpaku, tidak perlu fanatis, tidak perlu bermusuhan hanya karena berbeda pendapat.

BUKANKAH PERBEDAAN ITU TUHAN YANG CIPTAKAN? 











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berawal dari Basa-basi

Percaya atau tidak kalau semua berawal dari basa-basi? Iya. Seperti pengalaman saya kali ini, menemukan teman-teman yang asik dan bersahabat dengan baik sampai hari ini. Basa-basi tersebut dimulai ketika salah seorang teman berencana mengadakan liburan ke Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara Jawa Tengah pada tahun 2012 lalu. Pasky, mempublikasikan tentang rencana liburannya ke Pulau Karimunjawa lewat BBM, untuk menawarkan rencana trip Karimunjawa selama 3 hari 2 malam. Tanpa fikir panjang, saya privat chat untuk mengikuti trip tersebut. Setelah itu saya dan beberapa teman-teman berkumpul untuk membahas trip Karimunjawa ini.  Dari basa-basi itulah personil yang terkumpul adalah: Pasky Della Dyas Ikhsani Farid N Hidayat   Arka Yanitama M Firmansyah Kania Widiatami Hesty Dyah Saya sendiri Naaaahhh dari basa-basi inilah kita menelma menjadi sahabat yang kita namakan Genk Okol sekumpulan orang-orang penuh intrik dan tipuan....

#2019HarusBahagia (2)

Udah baca part 1 kan? Lanjut ya ☺️ Intinya ya 3 tahun ke belakang itu lagi sedih-sedihnya. Kita sebagai pribadi yang percaya keberadaan Tuhan harus percaya dong ya sama apa yang bakal Tuhan kasih untuk kita. Ga ada kehilangan kalau ga ada gantinya, itu sih yang aku jadiin pegangan selama ini. Semua masalah di hidup ini, bahagia, susah, sedih, itu sifatnya hanya sementara seperti siang dan malam. Pasti datang silih berganti. Mau diapain tetep kayak gitu. Ga ada satupun orang yang ga luput dari masalah apalagi kehilangan. Ya kan?! Intinya janji sama diri sendiri, AKU BISA BAHAGIA. Bertemu lelaki sesuai impian, menikmati, dan menjalani sisa umur dengan bahagia 🙂 Sekarang aku ga mau mikir apa kata orang lagi, apalagi kalau nyakitin diri sendiri, ga bikin bahagia, malahan bisa bikin nambah frustasi. Sengsara juga kita sendiri yang rasain, bukan orang lain. Wkwk! Karena beneran deh, hidup di bawah tekanan sosial, berdasar omongan orang, ga bakal bikin kita bahagia. Terlalu memak...

Berbisik pada Malam

Wajar saja jika kita merasakan bahagia, sedih, atau perasaan biasa saja, itu karena kita adalah manusia, yang diciptakan dengan "paket lengkap" oleh Tuhan, termasuk perasaan didalam diri masing-masing. Justru aneh atau tidak wajar jika kita tidak memiliki salah satu rasa yang saya sebut tadi, rasa-rasanya tidak afdol untuk menjadi manusia seutuhnya. Tapi ingat, sesuatu yang berlebihan itu tak baik bukan? Jadi, berbahagialah sewajarnya, sedih sewajarnya, atau dengan kata lain bersikap biasa saja jangan terlalu heboh. Saya pernah merasakan, entah rasa apa, yang pasti kebingungan yang sungguh luar biasa, kegelisahan, kegaduhan hati yang terus mengusik tidur, dan terbangun dengan perasaan hampa yang berlebihan. Bukan karena cinta ala ABG, tetapi kegelisahan mengenai hidup yang stagnan dan tidak ada kegiatan menantang yang harus dijalani, seperti bentuk lain dari kebosanan dan kejenuhan yang berlarut-larut. Apa yang telah saya lakukan? Apa salah saya? Pertanyaan itulah yang s...