Kata orang-orang kita selalu punya pilihan, kemana kaki kita akan melangkah, kemana hati kita akan berlabuh, dan kemana otak kita akan berfikir. Tapi sepertinya aku kesusahan dalam hal satu ini. Seakan otak ini tidak bisa berfikir, kaki tidak bisa melangkah, apalagi hati...
Seiring waktu, semua terasa menjadi salah. Ketika hati sudah memilih, tetap ada saja fikiran di otak ini yang menuntut juga untuk dipahami, itu juga yang mempengaruhi kaki ini untuk melangkah. Sebenarnya aku mau apa sih?
Di dalam kamus hidupku, aku selalu berjanji untuk tidak menyusahkan orang lain, aku ambil semua resiko, aku bisa (terlihat) bahagia, yang terpenting orang lain bahagia ketika ada aku. Yang harus kita pahami, jangan sampai orang lain tidak bahagia berada disekitar kita.
Kita tidak bisa memilih kapan akan jatuh cinta, dengan siapa kita jatuh cinta, kapan akan menemukan pasangan hidup, bagaimana kelanjutan perasaan kita. Semua itu terjadi alami. Yang aku tau, cinta itu mengasihi, memprioritaskan, mengusahakan, dan memberi kebahagiaan serta rela dibagi duka.
Itu yang aku alami...
Aku tidak bisa memilih waktu kapan aku jatuh cinta dengan seorang pria, entah benar atau salah, akan berlanjut atau tidak, pertanyaan itu seolah selalu muncul di otak. Jika mencintai itu adalah salah, aku berharap tidak akan larut dalam kesedihan. Jika mencintai itu adalah benar, aku harap bisa terus-menerus merasakan itu. Bukankah cinta harus dibuktikan? Bukankah cinta harus bahagia?
Bukan karena paras, rupa, harta, dan tahta.
Cinta terbentuk alami, tanpa memandang apapun. Menerima segala baik dan buruknya, selalu berusaha membahagiakannya. Tidak masalah materi,perhatian sekecil apapun sangat berarti bagi orang lain apalagi orang yang kita cinta. Nampaknya tidak pantas kita mengucapkan cinta tanpa ada pembuktian, itu berlaku universal, tidak melulu masalah antara lelaki dan perempuan dewasa.
Nyatanya aku sekarang hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk orang yang aku sayangi, aku usahakan sebaik mungkin mendefinisikan arti cinta. Urusan berbalas atau tidak, berlanjut atau tidak, aku tidak bisa memilih apalagi memutuskan.
Jangankan masalah hati seperti ini, untuk menentukan aku mau minum kopi atau yoghurt malam ini saja aku bingung :)
Atau memilih jilbab yang akan aku kenakan untuk kerja, aku bingung :)
Semoga semua bahagia. Meski ada orang pernah berkata, aku tidak akan bisa membahagiakan semua orang. Betul memang, aku berusaha memastikan kebahagiaan orang, sedangkan aku disini menahan semua ini sendiri.
Aku (terlihat) bahagia...
Hanya menunggu untuk dipilih.
Seiring waktu, semua terasa menjadi salah. Ketika hati sudah memilih, tetap ada saja fikiran di otak ini yang menuntut juga untuk dipahami, itu juga yang mempengaruhi kaki ini untuk melangkah. Sebenarnya aku mau apa sih?
Di dalam kamus hidupku, aku selalu berjanji untuk tidak menyusahkan orang lain, aku ambil semua resiko, aku bisa (terlihat) bahagia, yang terpenting orang lain bahagia ketika ada aku. Yang harus kita pahami, jangan sampai orang lain tidak bahagia berada disekitar kita.
Kita tidak bisa memilih kapan akan jatuh cinta, dengan siapa kita jatuh cinta, kapan akan menemukan pasangan hidup, bagaimana kelanjutan perasaan kita. Semua itu terjadi alami. Yang aku tau, cinta itu mengasihi, memprioritaskan, mengusahakan, dan memberi kebahagiaan serta rela dibagi duka.
Itu yang aku alami...
Aku tidak bisa memilih waktu kapan aku jatuh cinta dengan seorang pria, entah benar atau salah, akan berlanjut atau tidak, pertanyaan itu seolah selalu muncul di otak. Jika mencintai itu adalah salah, aku berharap tidak akan larut dalam kesedihan. Jika mencintai itu adalah benar, aku harap bisa terus-menerus merasakan itu. Bukankah cinta harus dibuktikan? Bukankah cinta harus bahagia?
Bukan karena paras, rupa, harta, dan tahta.
Cinta terbentuk alami, tanpa memandang apapun. Menerima segala baik dan buruknya, selalu berusaha membahagiakannya. Tidak masalah materi,perhatian sekecil apapun sangat berarti bagi orang lain apalagi orang yang kita cinta. Nampaknya tidak pantas kita mengucapkan cinta tanpa ada pembuktian, itu berlaku universal, tidak melulu masalah antara lelaki dan perempuan dewasa.
Nyatanya aku sekarang hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk orang yang aku sayangi, aku usahakan sebaik mungkin mendefinisikan arti cinta. Urusan berbalas atau tidak, berlanjut atau tidak, aku tidak bisa memilih apalagi memutuskan.
Jangankan masalah hati seperti ini, untuk menentukan aku mau minum kopi atau yoghurt malam ini saja aku bingung :)
Atau memilih jilbab yang akan aku kenakan untuk kerja, aku bingung :)
Semoga semua bahagia. Meski ada orang pernah berkata, aku tidak akan bisa membahagiakan semua orang. Betul memang, aku berusaha memastikan kebahagiaan orang, sedangkan aku disini menahan semua ini sendiri.
Aku (terlihat) bahagia...
Hanya menunggu untuk dipilih.
Komentar
Posting Komentar